Ask to us anything! We here to answer any questions you have. 

E-mail : info@fisheries-ecovilla.com

Phone : +62 812 829-2399

 

RT.002 Pulau Derawan. Kepulauan Derawan

Berau District, 77381

Derawan Island - East Kalimantan

INDONESIA

  • Grey Twitter Icon
  • Grey TripAdvisor Icon
  • Grey Facebook Icon
  • Grey Instagram Icon
Sign up for updates

Fisheries Eco Villa  © Copyright 2014  |  All Rights Reserved

Timur Borneo, Tempat Manusia Telinga Panjang Bermukim

December 21, 2015

 

Keragaman budaya pada setiap daerah di Indonesia merupakan suatu kekhasan yang di miliki oleh Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI). Salah satu keragamannya yaitu Suku-suku yang ada pada masing-masing daerah seperti di Sumatera, Jawa, Sulawesi, Kalimantan, Papua dan propinsi lainnya. Salah satu suku yang ada di Indonesia adalah Suku Dayak.

Suku dayak ini berasal dari Pulau Kalimantan, khususnya mayoritas tersebar di Kalimantan Timur dan Utara. Di sepanjang pesisir sungai Kelay sendiri, Suku Dayak sendiri terdiri dari beberapa jenis suku, yaitu Dayak Ga’ai, Dayak Kelay, Dayak Punan, Dayak Wehea dan masih ada lagi jenis suku dayak lain yang tinggal di daerah daerah terpencil di Kalimantan.

Suku Dayak Ga’ai sendiri merupakan Suku dayak yang banyak tersebar di Provinsi Kalimantan Timur, tepatnya di Kabupaten Berau. Mereka tinggal di perkampungan Dayak Bena Baru, Tumbit, long lanuk, merassa dan lain-lain.

 

Salah satu suku Dayak yang penulis datangi adalah Suku Dayak Ga’ai di Bena Baru dan Merassa. Kedua desa ini sudah menjadi desa wisata budaya di Kabupaten Berau, namun Bena Baru tergolong desa wisata yang baru sementara desa Merassa merupakan desa wisata suku dayak pertama di daerah pertambangan batu bara ini. Namun rata-rata semua desa Suku Dayak ini terletak di daerah pinggir sungai, bahkan ada yang di hulu.

 

Suku Dayak asli yang terkenal dengan model telinga panjang dan perhiasan antingnya dapat kita temui di kedua desa ini. Terutama untuk desa Bena Baru, masih ada 5 orang yang berkuping panjang dan bertato khas suku Dayak. Tiga orang diantaranya sudah berumu diatas 80 tahun dan tidak bisa berkebun lagi. Sementara dua orang lainnya (nenek-nenek) berumur diatas 60 tahun dan masih kuat berkebun untuk mencari nafkah. Sementara di desa merassa, hanya tersisa satu orang nenek berumur 72 tahun yang memiliki telinga panjang dan tato di tangan serta kakinya.

 

Rata-rata orang tua Dayak tersebut tidak mengerti bahasa Indonesia, mereka harus di dampingi oleh anak atau cucunya agar dapat berkomunikasi dengan orang luar. Pekerjaan utama mereka memanglah berkebun, tetapi jangan salah, perjalanan menuju kebun mereka paling cepat selama 1 hari berjalan kaki. Biasanya mereka tinggal di hutan selama 1 bulan untuk berkebun tersebut. Suku dayak kuping panjang, seperti itulah sebutannya, saat ini sudah sangat jarang kita temui karena mereka cenderung tinggal di bukit di tengah hutan. Oleh karena itu, “sisa-sisa” suku dayak kuping panjang yang ada di desa wisata dayak seperti disebutkan di atas adalah desa yang paling mudah ditempuh untuk bertemu dengan mereka.

 

Perjalanan menuju desa Bena Baru dapat di tempuh dengan motor atau mobil dan memakan waktu kurang lebih 1-1,5 jam dari Kota Berau/Tanjung Redeb, sementara desa Merassa dapat di tempuh dalam waktu 2-3 jam. Perjalanan sampai pintu masuk perkampungan sudah beraspal, sementara jalan masuk hingga penyebrangan ke desanya masih tanah dan bebatuan.

 

Sebelum tiba di desanya, kita harus menyebrang sungai selama 3-5 menit menggunakan perahu bermesin ketingting. Biaya 1x menyebrang murah saja, cukup membayar Rp.5000/ orang begitupun sebaliknya, kita sudah tiba di desa Bena Baru.

 

Namun berbeda halnya dengan desa merassa. Kita tidak perlu menyebrang dengan perahu ketingting karena desa tersebut sudah di fasilitasi dengan jembatan gantung yang bisa dilalui mobil roda 4. Berhubung perjalanan ke desa ini masih rentan terhadap longsor ketika hujan lebat, maka disarankan untuk berkunjung pada bulan musim kemarau antara bulan maret-oktober.

 

Di desa ini tidak terdapat penginapan atau rumah makan, hanya ada warung/kios-kios kecil untuk membeli minuman dan makanan ringan. Apabila ingin bermalam, maka harus bersosialisasi dengan masyarakat dayak setempat agar mendapatkan izin untuk menumpang.

Please reload

Featur